Pelacuran



Tiga orang pelacur terlihat tengah menantikan kehadiran pelanggan. Mereka mempertontonkan pesona tubuhnya pada setiap pengendara kendaraan yang melintas di tepi jalan pajajaran tepat di seberang kantor Polsek Bogor timur. Namun seorang lainnya yang berwajah menarik cukup beruntung, seorang pria tambun yang mengendari mobil kijang Inova terlihat tengah bernegosiasi untuk mengajaknya ceck in.

Hanya saja orang di sekeliling mencibir menatap mereka, seakan menilai,” Sungguh tidak bermoral kalian!”.

Fenomena Pelacuran

Kehadiran pelacuran sering mengusik ketenangan banyak orang. Kaum agamawan mencap mereka sebagai manusia kotor yang tidak bermoral sehingga mereka kemudian dijadikan objek penobatan. Demikian juga halnya dengan pemerintah maupun tokoh masyarakat menjadikan pelacuran sebagai sesuatu yang meresahkan masyarakat sehingga perlu ditertibkan. Saat-saat menjelang bulan suci agama para pelacur seringkali menjadi objek pembersihan aparat demi mendukung kekhusukan sebuah ibadah. Meskipun tidak ada yang perlu merasa terusik jika semua orang tidak merasa tertarik dan tergoda oleh polah tingkah para pelacur dan mereka juga tidak pernah akan eksis jika tidak ada yang membutuhkan. Namun masalahnya banyak pria kesepian mengharapkan kehadiran mereka bahkan sekalipun pada bulan suci. Tindakan represi hanya membatasi kesenangan para hidung belang sementara waktu atau sejenak mengajaknya bertobat namun tidak memadamkan hasrat berjajan ria secara total. Paling upaya represif hanya akan mewujudkan kondisi masyarakat suci dan bersih secara semu.

Meskipun demikian , pelacuran sesungguhnya merupakan sebuah fenomena sosial yang tidak pernah lepas dari sejarah peradaban manusia. Aktivitas pelacuran dan prostitusi telah belangsung lama, bahkan sejak masa awal peradaban manusia pelacuran sudah dikenal. Pelacuran di masa lampau bahkan tidak selalu dinilai buruk. Bahkan ada pelacuran bersifat suci sebagaimana diceritakan Herodotus, sejarawan Yunani, bahwa setiap perempuan Babilonia sekali dalam masa hidupnya dipaksa pergi ke kuil Ishtar dan menawarkan diri demi bayaran tertentu pada laki-laki yang meninginkannya sebagai bentuk pelayanannya terhadap dewa[1]. Prostitusi suci sedemikian juga ditemukan tumbuh subur di Mesir Kuno maupun Yunani Kuno[2]. Demikian halnya dengan pelacuran untuk tujuan seksual juga telah berusia uzur dan telah ada sejak zaman kuno. Di Indonesia pelacuran telah ada sejak jaman pra-penjajahan meski bentuknya belum terstruktur dan terkomersialisasi. Dolly, lokalisasi terbesar di Surabaya seligus se-Asia Tenggara, telah ada sejak zaman Belanda. Disamping itu banyak wanita-wanita pribumi pada masa penjajahan menjadi nyai-nyai Belanda, yakni sebagai pemuas hasrat seksual penguasan Belanda selama berada di Indonesia. Apakah kemudian ini berarti pelacuran tidak sepenuhnya dapat dibasmi?

Kejalangan vs Keterpaksaan

Memang kita tidak bisa menutup mata bahwa banyak wanita yang memilih untuk menjadi wanita jalang meskipun ia tidak harus melakukannya. Wanita ideal adalah wanita yang hanya menyerahkan kehormatannya[3] pada seorang pria yang ia cintai, yakni suaminya, dalam ikatan rumah tangga, namun jika sebaliknya terjadi, wanita mengumbar tubuhnya kepada banyak pria tanpa sebuah ikatan apalagi hanya untuk mendapatkan materi maka wanita demikian patut dikategorikan sebagai wanita jalang. Misalnya saja wanita yang diberi label pecun, merupakan wanita terpelajar yang berasal dari golongan masyarakat kelas menengah yang meskipun telah hidup secara berkecukupan namun tetap saja mau menawarkan pelayanan seks demi mendapatkan uang lebih untuk berfoya-foya maupun mendapatkan barang-barang mewah[4]. Namun kejalangan tidak selalu menjadi terkait secara absolut dengan pelacuran. Dikalangan remaja seks telah menjadi sebuah kesenangan baru sehingga gadis-gadis muda yang rela diajak behubungan seks untuk mewujudkan sebuah gaya hidup. Kadang ketelanjanganpun dinilai sebagai sebuah ekspresi seni bagi kaum muda. Kejalangan seolah menjadi simbol identitas progresif.

Namun bukan berarti pelacuran timbul selalu disebabkan karena aura kejalangan merasuki sejumlah wanita. Kemunculan pelacuran dapat juga menjadi simbol ketidaksempurnaan struktur masyarakat. Wanita seringkali harus memilih menjadi pelacur karena sebuah keterpaksaan. Survai yang dilakukan di Dolly setidaknya menunjukkan hal tersebut, dimana 48 persen dari wanita yang ditanya menyebutkan alasan menjadi pelacur karena faktor ekonomi[5]. Mereka menjadi pelacur demi tujuan altrustik, yakni untuk membiayai kehidupan keluarganya di kampung, atau demi menyekolahkan anak atau adik-adiknya, bukankah ini sebuah pengorbanan yang mulia?

Saat ini kita hidup dalam sistem kapitalisme, jaring-jaring sosial yang cenderung berorientasi pada harta dan kesenangan, karena setiap manusia dipandang sebagai mahluk yang memiliki hasrat terus menerus mendapatkan kepuasan dalam jumlah besar[6]. Dan kondisi demikian akan semakin menyuburkan keberadaan dunia pelacuran. Bukankah pelacuran akan menyediakan sarana bagi mereka yang berkelebihan materi untuk meraih kesenangan sepuasnya melalui seksualitas. Tuntutan untuk kepuasan lebih menuntut dunia prostitusi untuk lebih berkembang menciptakan dimensi-dimensi pelayanan baru. Sehingga variasi-variasi pelayanan seks diciptakan, misalnya berupa party seks, perta bujang dsb. Demikian halnya dengan wanita pelacur, harus siap menjadi objek kesenangan orang lain, menjadi plastik yang tidak berjiwa. Tubuhnya hanya menjadi sekumpulan tanda yang menggerakkan imajinasi pelanggannya. Ia bahkan tidak menikmati seks itu sendiri. Erangannya menjadi sebuah permainan tanda yang menipulatif tanpa sepenuhnya mencapai klimaks. Setiap bagian tampakan tubuhnya menjadi karikatur yag siap dibentuk melebihi fungsi alamiahnya. Lidah untuk mengkulum alat kelamin, tawa dan senyum tanpa sebuah kegairahan, dan dubur diatur menjadi wilayah seksual. Sesungguhnya pelacur terekplotasi dan posisinya lebih disejajarkan dengan sebuah boneka barbie yang bebas dimainkan sesuka hati dan tanpa hati. Tidak ada pilihan, karena hanya tubuh yang dapat dijual. Kekejam sistem kapitalisme menuntut mereka yang ingin mendapatkan sesuatu harus mampu menjual sesuatu yang bernilai. Ketika seorang wanita terusir dari keluarga, tidak memiliki pendidikan dan keahlian memadai untuk ditawarkan di pasar tenaga kerja, dan kemiskinan mengerogoti maka pelacuran menjadi akan sebuah pilihan;.

Maka jika pelacuran masih terpelihara hingga saat ini siapakah yang patut dipersalahkan?

Akhir Kata

Kehadiran pelacuran tidak hanya menjadi sebuah gambaran degradasi moral sejumlah wanita, namun juga mempertontonkan struktur masyarakat yang tidak sempurna, toh, setiap manusia hadir di dunia ini adalah sebagai mahluk yang suci. Kondisi masyarakat turut mengkondisikan jutaan wanita memilih menjadi seorang pelacur setidaknya menjadikan kejalangan sebagai pilihan yang mungkin. Saat kemiskinan, kesenjangan penguasaan materi ada, akan selalu menumbuhkan pelacuran yang sesungguhnya merupakan bentuk lain dari eksploitasi. Oleh karena itu, pelacuran tidak akan mungkin dilenyapkan selama masih ada orang yang membutuhkannya serta ketika memasukinya menjadi sebuah pilihan yang rasional terutama bagi para wanita yang mengharapkan kehidupan yang lebih baik.

[1] Clifford B. Seks dan Spiritualistas (terjemahan) hlm 32
[2] idem, hlm 34
[3] Batas kehormatan di sini tidak saja berarti penyerahan keperawanan namun juga kepasrahan untuk mempertontonkan daerah tubuh pribadi kepada seorang pria dalam hubungan yang bersifat seksual.
[4] Nn, Traditional and Emergent Sex Worker in Urban Indonesia, p-1
[5] idem, p-6
[6] Albert L.M., Unsur-unsur Ekonomi Mikro (terjm) hlm-6

Perihal Sifuli

Bicara tentang makan minum, tidur baring, dan beranak pinak yang membina adat resam untuk kehidupan rohani, jasmani, jiwa dan raga. Diantara weblog Sifuli yang popular adalah seperti berikut: Dukun Asmara bicara tentang beranak pinak. Hipnotis Sifuli bicara tentang tidur baring. Jalan Akhirat bicara tentang adat resam (agama) Doa Ayat dan Zikir untuk rohani jasmani jiwa dan raga. Jika tak suka sekali pun janganlah tinggalkan komentar yang keterlaluan. Kerana segalanya adalah sekadar ilmu pengetahuan. Wasalam.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s